Selasa, 22 Desember 2009

Merokok Itu Hukumnya Haram

Seringkali mengingatkan orang berhenti merokok amatlah susah, nah berikut ini adalah karya desain digital yang dibumbui humor yang menyindir para perokok. Bila bisa mengingatkan agar berhenti, Alhamdulillah… bila tidak, sedikitnya kita sudah berusaha mengingatkan.

1. Merokok dapat menurunkan berat badan (dengan mengurangi satu demi satu paru-parunya)

2. Merokok dapat memutuskan hubungan sosial (karena perokoknya mati)

3. Sebenarnya sih… kamu dirokok!

4. Ingin melihat bagaimana wajahmu setelah mati?

5. Jagalah kebersihan, jangan buang abu rokok sembarangan…

Masih ada 35 gambar lagi di sini
[*] Sebarkan yuk!

Visiting Shodoshima

Visiting shodoshima was a great experience for me. Even though the places that we visited were not big, but they impressed me. In Olive garden is the first time I touch olive fruit which I heard thousand times. I didn’t even think that people can make chocolate and cake from it.

The old Japanese village was really amazing. I have been dreaming of that kind of village before. I read it in novels, saw it in movies, and it was only then I feel the real atmosphere. The old Japanese school building reminds me to my school. It brings back all my imagination of how Japan was. It is good that this site is preserved very well, it is just too bad that I do not have sufficient Japanese to understand about the story behind those sites I have visited.

I wish I could have more chances visiting Japanese historical sites. And I also wish, there is an English pamphlet or English-speaking guide to tell me about those sites.

Minggu, 13 Desember 2009

Abi! langitnya disapu... sama malaikat!

Teriak anak sulungku sejurus setelah dia keluar pintu. Lalu dia masuk sambil tersenyum-senyum kagum, “kok bisa ya?”

“Pertanyaan yang sama menggelitik hatiku, nak, tetapi tentang dirimu...,” batinku. Kok bisa kamu mengambil kesimpulan seperti itu. Fatih berusia baru 5 tahun saat ‘kesadaran’ tentang malaikat ini terucap dari bibirnya. Meski aku tahu, itu mungkin sekedar prasangka anak-anak, namun anak-anak yang spesial.

Orang dewasa mungkin akan meluruskan prasangka itu dengan informasi yang ilmiah, bahwa awan itu digerakkan angin. Kesibukan keseharian membuat orang dewasa selalu berpikir logis, menurut anggapannya, yakni mencerna segala dengan dunia.

Mudah-mudahan kelak kesadaran ini menguat dalam dirimu, nak.

Senin, 21 September 2009

Ramadhan di Jepang

Ramadhan tahun ini lebih berat rasanya buat saya. Musim panasnya membuat kulit terbakar di suhu rata-rata 35 derajat celcius, dengan siang hari yang lebih panjang. Subuh dimulai jam 3 dan Maghrib baru menjelang pukul 7.30. Pernah saya terheran-heran dengan suasana jam 6 sore yang terang-benderang sementara saya sudah bersiap-siap wudhu untuk menunaikan sholat maghrib.

Beruntung permulaan puasanya di akhir musim panas. Semakin dekat ke musim gugur suhu berangsur sejuk dan siang harinya memendek, hari terpanjangnya cuma 15 jam sehari.

Yang menjadikan puasa di Jepang lebih berat bukan cuma waktunya yang lebih panjang tetapi juga sepinya dari gairah Ramadhan. Tinggal di daerah pedesaan Kato-shi, komunitas Muslim disini hanya bertiga; saya dan keluarga, seorang teman dari Brunei Darussalam dan seorang lagi dari Uzbekistan, negara asal Bukhari sang perawi hadits terkenal.

Masjid terdekat ada di Kobe, kurang lebih 55 km jauhnya yang dapat ditempuh 1 jam dengan mobil pribadi. Dengan jarak seperti itu, praktis kami tidak pernah berangkat sholat tarawih di masjid. Lagipula untuk ke sana ongkosnya tidak murah, pulang-pergi memakan biaya sekitar \2.500 (bila dikurskan dengan Rp 100,- per yen sama dengan Rp 250.000,-) Bagi mahasiswa seperti saya, jumlah itu adalah jatah belanja selama seminggu. Namun mau tak mau kami bertiga memaksakan untuk bisa sholat Jumat, karena hukumnya wajib bagi laki-laki.

Internet adalah satu-satunya cara mengobati kerinduan akan siaran siraman rohani melalui streaming stasiun televisi atau radio dari tanah air. Bahkan adzan pun hanya bisa saya dengar dari software adzan di komputer. Tidak ada lantunan tadarus Qur’an dari tetangga kanan-kiri yang kebanyakan berasal dari Korea atau Cina lantaran mereka atheis.

Pada beberapa kesempatan saya ditanyai oleh orang Jepang hal-hal yang berkaitan dengan Islam. Yang paling sering adalah perihal jilbab, makanan halal, puasa, dan minuman beralkohol. Mereka selalu heran melihat wanita muslimah yang berjilbab meski di cuaca yang panas. Biasanya bila mulai bertanya, bisa cerewet seperti anak kecil. Seperti kenapa menutup kepala, siapa yang harus melakukannya, mulai umur berapa, boleh tidak dilepas, dan seterusnya. Teman-teman muslimah yang kesulitan menjelaskan dari sisi syariatnya, banyak yang akan beralih ke alasan dari sisi keuntungan jilbab adalah melindungi dari sinar matahari.

Bila saya memberitahu bahwa saat bulan Ramadhan seorang Muslim tidak makan dan minum selama siang hari, mereka akan bersimpati “daijoubu?” (tidak apa-apa?) tanyanya, dan setelah dijelaskan maka biasanya komentarnya, “Wah, bagus juga untuk diet.” Seorang teman memuji bahwa puasanya orang Islam benar-benar bersungguh-sungguh, sebab puasa yang dikenalnya hanyalah larangan makan daging tetapi dia masih bisa menikmati seafood yang justru lebih dia sukai, candanya.

Berbuka puasa di masjid Kobe benar-benar membuat siapapun akan merasakan ukhuwah Islamiyah. Selain karena disana kami bisa melepas keterasingan di tengah budaya Jepang dengan bertemu dengan saudara-saudara seiman dari manca negara, menu buka puasa juga sangat menarik. Tiap hari masakan-masakan dari Muslim pendatang digilir, dan yang paling menjadi favorit adalah hari Selasa, yakni menu masakan Arab.

Ada kalanya orang Jepang tertarik untuk mengetahui tata cara ibadah kaum Muslim. Saya pernah diundang untuk berbuka puasa bersama mereka. Saat bertamu untuk jamuan makan di rumah hostfamily (keluarga persahabatan) saya harus terlebih dulu menjelaskan bahwa saya muslim, tidak minum alkohol, dan tidak makan daging kecuali yang berlabel halal. Lalu mereka akan merinci dengan berondongan pertanyaan lain, “Bagaimana dengan buah? Sayuran? Ikan? Telur?” dan seterusnya. Setelah jelas maka mereka akan rela repot untuk mencarikan makanan yang persis seperti kebutuhan saya. Bahkan saya sempat terkejut ketika mereka menunjukkan kerupuk udang, nasi goreng, dan bumbu gado-gado dari Indonesia yang mereka beli lalu menanyakan apakah makanan itu boleh dimakan. “Daijoubu,” jawab saya. Tetapi dengan menu sushi dan masakan khas Jepang lainnya, tidak pas rasanya kalau dicampur-campur.

Menjelang hari raya, tidak ada rencana mudik atau silaturrahim ke rumah saudara, karena terlalu mahal ongkosnya. Kami cuma bisa berkumpul bersama teman-teman dari Indonesia yang akan menyelenggarakan sholat Id bersama di KJRI Osaka, sambil berharap Idul Fitri kali ini tidak akan terjadi perbedaan lagi.

Kamis, 10 September 2009

Perjalanan Liberalisme di Indonesia

Di awal kemerdekaan Indonesia semangat jihad melawan penjajah begitu kental. Seruan untuk mengusir penjajah berkobar dari pesantren. Kalangan santri menjadi pelopor dalam memperjuangkan kemerdekaan. Tak heran bila di awal berdirinya negara Indonesia, berbagai seruan yang mendukung untuk dibentuknya negara Islam bergaung cukup signifikan. Ini dibuktikan dengan besarnya jumlah dukungan pada partai politik Islam yang mendukung konsep negara Islam. Masyumi, NU, PSII dan semua kaum muslimin yang berafiliasi pada santri saat itu mendukung gagasan negara Islam.

Sayangnya kaum Muslimin miskin politikus maupun negarawan, sehingga sikap akomodatif dan toleransinya dalam pemerintahan dimanfaatkan segelintir orang untuk membelokkan kemerdekaan ke arah demokrasi. Meski tokoh nasional seperti Natsir, Syafruddin, Roem, dan beberapa tokoh Masyumi pada awal kemerdekaan itu hampir tidak ada yang menulis demokrasi liberal. Mereka tahu apa bahaya pemikiran demokrasi liberal. Namun, mengingat lemahnya kekuatan politik kaum Muslimin, mereka terpaksa menerima label demokrasi selama mengadopsi Islam.

Meski demikian, di bawah tekanan orde lama, kekuatan Islam mengalami pergeseran setelah transisi politik dari Orde Lama ke Orde Baru, khususnya pada pemikir liberal seperti Nurcholish Madjid, Dawam Raharjo, dan lain-lain. Mereka menyerang paradigma politik Islam, dengan label-label demonologis. Meski sebetulnya hal itu sudah dimulai oleh Munawir Sadjali. Pada tahun 50-an dia menulis risalah kecil yang menolak negara Islam. Sebagai gantinya, para pengusung liberalisme ini gencar menggembar-gemborkan euforia demokrasi dari barat.

Guna menggeser gerakan syariah, Luthfi Assyaukanie mendikte bahwa demokrasi tidak akan pernah berjalan kecuali di atas platform negara sekuler: negara yang betul-betul memisahkan urusan agama dengan negara. Sehingga peran Islam dalam mengatur hukum pemerintahan perlu dimarjinalkan. Setelah tahun 80-an, dua tokoh liberal Cak Nur dan Gus Dur mulai mengkritisi negara yang terlalu ikut campur dalam urusan agama.

Meski ide sekulerisme ini banyak menimbulkan kontroversi, mengingat masih kuatnya akar budaya santri di tingkat akar rumput, namun media massa mampu membuat mereka ditokohkan dan terpublikasi. Luthfi mengklaim, “Sama seperti orang-orang Masyumi dan kaum santri pada tahun 50-an belum bisa menerima demokrasi, dan tidak bisa menolak konsep negara Islam. Sekarang ini hampir tidak ada orang yang mau menerima negara Islam. Artinya berbalik 180 derajat.”

Keberhasilan gerakan liberal dalam menggeser ide Islam ini tak luput dari dukungan media massa dan beberapa organisasi penyokong dana dari Barat seperti TAF dan universitas-universitas yang menyediakan beasiswa bagi Muslim yang berawasan liberal. Di Indonesia, Adian Husaini mengkategorikan beberapa modus gerakan liberalisme, mulai yang disebut sebagai “eceran”, yakni melalui media massa, maupun yang “partai” yakni tersistem dalam perguruan tinggi. Berarti tahapan liberalisasi Islam sudah hampir mencapai klimaksnya: sekulerisme.

Rabu, 15 Juli 2009

kendaraan baru


Penerapan Inquiry Learning pada Pelajaran Desain Grafis

Mata pelajaran desain grafis seperti Adobe Photoshop boleh jadi disangka sangat teknis dimana untuk menghasilkan sebuah gambar garis, misalnya, seorang desainer cukup menarik pena dari satu titik ke titik lainnya. Tetapi dengan kekayaan fasilitas filter (menu) pada software desain grafis, seorang guru dapat mengajak siswa untuk menganalisa langkah-langkah baru yang tentu akan menghasilkan variasi berbeda.

Ini berangkat sejak dulu pernah saya tidak setuju dengan definisi garis yang diberikan oleh guru gambar saya, yakni “garis adalah kumpulan titik-titik yang rapat dan sejajar”. Sebab saat saya membuat garis saya tidak sedang membuat banyak titik, tul… tul… tul… tetapi satu tarikan reeet…! Dari sini saya berpikir bahwa garis itu dapat difenisikan bagaimana saja tergantung bagaimana cara orang membuatnya.

Oke, mari kita mulai saja pelajaran ini…
Tingkat Awal: Mandiri
  1. Berikan beberapa file gambar (text layer, text rasterize, dots, foto, dsb.)
  2. Minta siswa untuk mengaplikasikan salah satu filter pada semua gambar tersebut
  3. Tanyakan kepada siswa apa dampak filter tersebut terhadap gambar
  4. Minta siswa untuk mendefinisikan fungsi filter itu sendiri secara detail. Pendapat yang paling mendekati dengan dampak yang dihasilkannya adalah yang paling dapat diterima. Boleh jadi merupakan kompilasi dari beberapa pendapat.

Tingkat Lanjut: Berkelompok
  1. Tunjukkan sebuah gambar hasil manipulasi sederhana dari Adobe Photoshop disertai dengan gambar aslinya,
  2. Tanyakan kepada siswa apa yang telah dilakukan pada foto aslinya sehingga menjadi gambar manipulasi
  3. Ajak siswa untuk mencoba mempraktekkan pendapatnya tadi
  4. Di akhir percobaan, minta siswa berkomentar sekali lagi terhadap pendapat pertamanya tadi. Siswa lain akan memiliki pendapat dan pengalaman yang berbeda, mereka dapat berbagi untuk menciptakan gambar yang paling mendekati dengan gambar hasil manipulasi.

Tingkat Mahir: Individu/Berkelompok
  1. Minta siswa untuk mengerjakan satu proyek dengan memberikan gambaran terhadap hasil akhirnya. Misalnya, poster tentang demonstrasi.
  2. Minta siswa membuat rancangan perkiraan desainnya. Misalnya siswa akan membuat kesan berdarah, kekerasan, konflik, warna kusam, dan semacamnya. Guru hanya mengeksplorasi seberapa kreatifkah siswa dalam menambahkan asesori untuk menambah citra rasa desainnya. Guru tidak perlu menyarankan siswa untuk menambahkan efek api, sebab itu dapat mencampuri imajinasi siswa.
  3. Minta siswa bekerja kelompok dalam waktu yang cukup. Bila dalam beberapa pertemuan, maka minta siswa untuk membagi pekerjaan menurut elemen-elemen yang dibutuhkan. Tetapi mereka harus membicarakan konsepnya bersama-sama.
  4. Setelah selesai, siswa menunjukkan hasil kerjanya, menyampaikan alasannya memilih desain tersebut, menjelaskan filosofinya, dan teknik pembuatannya. Sementara siswa yang lain memberikan komentar atas kesannya, menyarankan teknik tertentu atau tambahan elemen yang lain.
Kenapa Inquiry Learning?
Kegiatan pada inquiry learning ini bersifat terbuka, bebas, tanpa instruksi. Guru tidak memberikan langkah-langkah yang harus ditempuh siswa. Melainkan siswa yang menemukan sendiri langkah-langkah tersebut. Keuntungan dari metode ini adalah:
  1. Mengasah kemampuan analisis siswa
  2. Membangun kemandirian siswa untuk bekerja menurut kapasitasnya sendiri
  3. Membentuk kemajemukan, sehingga satu orang dapat menghargai pemikiran dan hasil kerja yang lain.

Poin-poin hikmah ini juga perlu untuk disampaikan kepada siswa dan orang tua, supaya mereka mengetahui pada hal apa mereka telah berkembang. Misalnya, setelah siswa mempresentasikan pekerjaannya sensei menulis laporan kepada orang tua “Hikaru telah berhasil menganalisis foto abstrak, dan mampu membuat gambar serupa tanpa bantuan guru. Pada sesi presentasi dia mendapatkan kritik dari teman-temannya, namun Hikaru menerimanya dengan baik sekali. Hikaru cukup terbuka pada kritik.”

Jadi disini keuntungan bagi guru adalah:
  1. Membantu penjabaran prestasi siswa dalam memberikan penjelasan kepada orang tua
  2. Relatif lebih sedikit dalam persiapan pelajaran

Namun harus diperhatikan bahwa:
  1. Kemungkinan hasil kerja siswa berbeda dari apa yang diharapkan oleh guru. Disini guru harus terampil mengapresiasi pekerjaan siswa.
  2. Guru tidak boleh mengintervensi pekerjaan siswa, sebab bila demikian maka tujuan dari pembelajaran inquiry learning menjadi hilang.